Halaman

Kamis, 07 Juni 2012

Har, Wani, Tah (Ta)

Saya baru saja ngobrol dengan teman saya yang dari bojonegoro mengenai sebuah kalimat yang rasanya sangat diimpikan oleh kebanyakan kaum adam yaitu "Harta, Tahta dan Wanita". Gag tau teman saya mendapatkan kalimat ini darimana, tiba-tiba saja dia berkata demikian dan langsung menjadi bahan obrolan.

Dimulai dengan harta yang siapapun di dunia ini mesti mencarinya, dari pagi sampe ke pagi lagi, rela menginap di kantor untuk mengejar deadline dari bos, sibuk dengan rapat yang tidak kunjung selesai, rela membayar calo yang bisa memasukkan untuk bekerja pada sebuah institusi tertentu. Semua yang saya sebutkan diatas memang dengan satu tujuan untuk mencari harta. Siapa sih yang tidak butuh uang? mulai dari lahir sampai mati pun kita butuh uang. Juga utnuk mencari kebahagiaan yang salahtunya dengan menggunaka pengaruh dari uang. Jadi semua yang kita lakukan di dunia ini demi mendapatkan sejumlah uang yang dampaknya begitu besar. Teman saya pun nyeletuk "bullshit kalo kebahagiaan bisa dicapai tanpa adanya uang, karena salah satu untuk mencapai titik kebahagiaan pun menggunakan uang." Memang masuk akal yang dikatakan teman saya karena dengan uang kita bisa membeli beberapa "komponen" yang bisa kita gunakan untuk tercapainya kebahagiaan. Bukannya saya mata duitan tapi emang gimana lagi kalo semuanya butuh uang.

Kalo yang kedua Tahta, tak heran kalo tahta di jadikan urutan nomer dua. Orang-orang rela menghamburkan rupiahnya mengalir begitu saja untuk menjadikan dirinya seorang yang memiliki tahta, naik sebagai Presiden, gubernur, wali kota, bupati, camat, sampe ketua RT dan RW, hehe. Kalo aku bilang tahta kan gag bisa di nikmati, namun temanku mulai nyeletuk, "Iya gag bisa dinikmati, tapi kita akan dihormati dan disegani, nah persaaan dihormati dan disegani itu lah yang mahal harganya.". Wah-wah, jauh juga ya temanku mikirnya, hanya untuk peraaan dihormati dan disegani saja orang-orang sampai rela menekel lawan nya, mengadu domba lawan-lawannya, dan yang lain. Memang dunia sudah kacau untuk mendapatkan Tahta.

Nah, ini yang ketiga. WANITA. Wuahh, wanita? emang kenapa dengan wanita. Changcuter," wanita itu racun dunia". haha, emang bener sih. Kalo orang sudah mabuk dengan yang namanya Wanita sih emang akan di perjuangkan mati-matian. Bahkan ada saja tokoh yang kesandung perkara hukum akibat main-main dengan Wanita. gag tau tapi yang mulai duluan yang mana, Tokohnya ato Wanita duluan. gag ada yang tau. Temenku juga jika disuruh memilih antra Ketiga tersebut dia akan memilih wanita, alasannya sih nanti kita akan menikah dengan wanita yang akan hidup berpasangan sampai tua, nah wanita tersebuta haruslah yang sesuai dambaan temanku tersebut. Jika hidup tanpa harta dan tahta sih temanku masih oke-oke saja, tapi kalo ntar kita dewasa tanpa adanya wanita disamping kita yang sesuai dengan dambaan kita tentu semuanya akan hampa. hehe.

oke Sodara-sodara kaum adam. Harta, Tahta, Wanita yang kita impikan jangan sampai kita dapatkan dengan mencedarai orang lain. Untuk mendaptkannya kita harus berjuang namun harus tetap dalam koridornya. That's Up To You Guys!

Senin, 04 Juni 2012

Malah Terkotak-kotak karena Teknologi

Ternyata kita ini sudah tidak lagi terkurung dalam perbedaan geografis, dan SARA. Namun lebih berbeda dalam hal kesenganan pribadi. Hal inilah yang menjadikan dunia ini semakin terkotak-kotak akibat kesenangan, cara berpikir, dan kepuasan pribadi masing-masing. Kita bisa melihat ini dari komunitas-komunitas yang terbentuk dari hoby masing-masing, bhakan sampai organisasi raksasa yang anggotanya memiliki hobi menembak atau entah apa yang lainnya. Entah ini sebuah kemajuan yang positif atau kemunduran yang negatif. Yang positif mungkin kita bisa menyalurkan hobi kita secara masal dengan orang lain yang memiliki hobi sama sehingga terbentuklah hubungan timabl balik yang saling menguntungkan dari sudut ini. Dan tetntu saja masih ada efek negatif, yaitu manusia menjadi semakin individualistis dan egois, tidak mampu melihat keadaan disekitanya yang penting kebutuhan pribadi tersebut terpenuhi tanpa melihat yang lain.
Namun kita sebagai pribadi yang sudah berada pada zaman teknologi--yang membuat semakin individualistis akibat semakin mudahnya segala urusan- tetntu harus memilah lebih baik mana yang baik untuk diri kita (ini juga masih masuk egois) namun juga jangan samapai yang lebih baik untuk diri kita sampai mengorbankan orang lain.