Anda pasti tahu "pencit" kan? Pencit merupakan sebutan bagi orang jawa untuk mangga muda yang masih belum matang benar. Apa yang anda rasakan? Asam, kecut, tidak enak. Intinya dengan kita mengambil pencit dari pohonnya maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati mangga yang sudah matang atau masak pohon. Mangga yang sudah masak tentu rasanya manis, segar, dan enak. Hal ini tentu tidak bisa didapat bila kita memakan pencit yang notabene rasanya tidak seenak mangga. Bila kita sabar menunggu bukan tidak mungkin kita bisa merasakan mangga, bukan pencit. Apalagi bila kita memiliki beberapa pohon mangga yang bisa menghasilkan uang. Nilai mangga masak tentu lebih mahal daripada pencit sehingga kita bisa memperoleh banyak keuntungan jikalau menjual mangga.
Ilustrasi mangga vs pencit di atas mengisyaratkan bahwa hendaknya kita bersabar dalam segala hal. Akan banyak manfaat yang kita peroleh jika kita tidak menuruti nafsu yang ada pada diri kita. Mengesampingkan hawa nafsu berati kita bisa memperoleh "mangga" bukan "pencit". Hal ini perlu ditekankan dalam setiap hal dari kehidupan kita. Menunggu hingga matang bisa membuat kita lebih menikmati hasil, jangan terburu-buru dalam bertindak. Nafsu tentu tidaklah buruk, tapi harus dikontrol sehingga kita bisa memperoleh hasil yang baik dengan mengalahkan hawa nafsu tersebut. Tentu menyenangkan apabila kita mendapatkan "mangga" daripada "pencit". Maka dari itu bersabar, menunggu waktu yang tepat dalam bertindak, menekan hawa nafsu harus dinomersatukan.
Jadi pilih mangga atau pencit?